Dony Raditya Ayo Sehat dengan SehatKuy...

8 Penyebab Gangguan Sistem Pencernaan dan Pengobatannya

3 min read

gangguan sistem pencernaan

Berikut beberapa penyebab gangguan sistem pencernaan seperti radang perut, tukak lambung, refluks gastroesofagus, diare kronis, sembelit hingga wasir

Sehatkuy.com – Jika Anda mengalami sakit perut, mual atau kembung, bisa jadi itu merupakan virus yang akan hilang dalam waktu, atau tanda kondisi gastrointestinal yang mungkin memerlukan perhatian medis atau perubahan kebiasaan gaya hidup. Jika Anda mengalami gangguan sistem pencernaan, pastikan Anda harus selalu berkonsultasi dengan dokter untuk mengidentifikasi penyebab pasti dari gejala Anda.

Mau tahu apa saja yang menjadi penyebab mengapa Anda mengalami gangguan pencernaan? Di bawah ini adalah hal-hal yang menyebabkan pencernaan Anda agak terganggu fungsinya.

Hal-hal yang Menyebabkan Gangguan Pencernaan

  1. Radang perut

Gastritis adalah radang selaput perut yang disebabkan karena infeksi, terutama helicobacter pylori (H. pylori), aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid lainnya (NSAID) seperti Ponstan, dan alkohol.

Beberapa gejala umum gastritis adalah:

  • Sakit perut (terbakar intermiten atau konstan, atau nyeri mencengkeram)
  • Mual dan muntah
  • Kehilangan selera makan
  • kembung dan sendawa

Cobalah untuk menghindari makanan pedas, berlemak dan digoreng, bubuk cabai, alkohol dan kopi karena dapat meningkatkan gejala yang menyakitkan.

  1. Tukak lambung

Gastritis sering dikaitkan dengan tukak lambung. Ulkus peptikum adalah luka yang berkembang di lapisan lambung, kerongkongan bagian bawah, atau bagian pertama dari usus kecil. Tukak lambung biasanya terbentuk sebagai akibat dari peradangan yang disebabkan oleh H. pylori, aspirin dan NSAID.

Gejala paling umum dari tukak lambung adalah ketidaknyamanan perut bagian atas, sakit perut atau kembung. Anda juga akan mengalami penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, mual, tinja berdarah dan muntah.

Jika tidak diobati, penyakit ini dapat memburuk dari waktu ke waktu dan menyebabkan komplikasi kesehatan yang lebih serius seperti ulkus berlubang, borok pendarahan (yang dapat menyebabkan kehilangan darah yang signifikan) atau dapat menyebabkan penyempitan, sehingga sulit bagi makanan untuk dicerna melalui saluran pencernaan.

  1. Refluks Gastroesofagus

Gastro-oesophageal reflux disease (GERD) adalah suatu kondisi di mana isi lambung bergerak mundur atau refluks dari lambung ke kerongkongan. Refluks adalah proses normal yang dapat terjadi pada orang yang tidak memiliki gejala refluks asam. Sebaliknya, GERD didiagnosis pada pasien yang mengalami refluks asam sehingga menyebabkan gejala yang menyusahkan.

Penderita GERD mungkin mengalami gejala yang disebabkan oleh asam yang mengiritasi dan merusak kerongkongan atau bagian belakang tenggorokan. Gejala yang akan disebabkan oleh GERD adalah :

  • Mulas
  • Sakit dada
  • Regurgitasi
  • Mual atau muntah
  • Sakit saat menelan
  • Suara serak dan sakit tenggorokan
  • Batuk

Refluks asam terjadi lebih sering pada pasien dengan GERD, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki gejala penyakit ini.

  1. Irritable bowel syndrome (IBS)

Irritable bowel syndrome (IBS) atau sindrom iritasi usus adalah bagian dari kelompok gangguan pencernaan yang dikenal sebagai gangguan usus fungsional. IBS adalah masalah umum yang mempengaruhi 10 – 20% masyarakat Indonesia.

Pasien dengan IBS memiliki ketidaknyamanan perut atau rasa sakit yang berhubungan dengan diare atau sembelit, dan ketidaknyamanan ini biasanya berkurang setelah buang air besar.

Diare pada IBS biasanya terjadi pada siang hari dan setelah makan. Beberapa pasien IBS mungkin mengalami sembelit bukan diare dan memiliki feses yang keras. Beberapa pasien memiliki kombinasi diare dan sembelit.

Penyebab IBS tidak diketahui dengan jelas, namun seringnya  dipicu oleh infeksi saluran cerna atau keracunan makanan. Sistem kekebalan di usus diaktifkan selama infeksi, dan menghasilkan sel dan protein yang meningkatkan sensitivitas saraf di usus. Saraf yang ekstra sensitif menyebabkan usus merasakan jumlah gas dan gerakan normal sebagai kembung dan nyeri.

  1. Diare kronis

Diare kronis didefinisikan sebagai buang air besar yang berlangsung selama lebih dari 4 minggu. IBS adalah salah satu penyebab timbulnya diare kronis. Penyebab umum lainnya adalah obat-obatan termasuk antibiotik, obat penghilang rasa sakit  (Ponstan) dan obat diabetes (Metformin).

Sebagian besar infeksi usus menyebabkan diare yang berlangsung kurang dari 4 minggu. Pada orang dewasa, salah mengkonsumsi makanan kadang-kadang dapat menyebabkan diare kronis. Intoleransi laktosa sering terjadi pada masyarakat Indonesia dan hal ini dapat menyebabkan diare dan kembung dengan produk susu.

Alkohol dan pemanis buatan juga dapat menyebabkan diare pada beberapa orang. Baik penyakit non-usus dan usus dapat menyebabkan diare kronis.

Penyakit non-usus yang menyebabkan diare termasuk penyakit tiroid dan diabetes. Pankreatitis kronis yang menyebabkan defisiensi enzim pankreas dapat menyebabkan malabsorpsi lemak dan karenanya menyebabkan diare kronis.

  1. Sembelit

Jika frekuensi tinja Anda menurun kurang dari 3 kali per minggu, tinja keras atau kecil, atau merasa perlu untuk mengejan saat buang air besar, Anda mungkin mengalami penyakit ini.

Ada banyak penyebab sembelit dan perawatan yang dibutuhkan untuk pasien ini harus melibatkan perubahan gaya hidup, diet dan asupan cairan, dan jika perlu, pengobatan.

Penyakit non-usus yang berhubungan dengan sembelit termasuk kekurangan hormon tiroid dan diabetes. Pasien dengan penyakit Parkinson juga lebih rentan mengalami sembelit. Beberapa obat termasuk obat penghilang rasa sakit (Morfin) dan anti-depresi (Amitriptyline) juga bisa menjadi penyebab gangguan sistem pencernaan Anda.

  1. Wasir

Darah merah di toilet ketika Anda sedang buang air besar bisa menjadi tanda wasir, Wasir adalah peradangan pembuluh darah di ujung saluran pencernaan Anda. Wasir bisa terasa sakit dan gatal. Penyebabnya termasuk sembelit kronis, diare, mengejan saat buang air besar, dan kekurangan serat dalam makanan Anda.

Obati wasir dengan makan lebih banyak serat, minum lebih banyak air, dan berolahraga. Obat penyembuh wasir yang dijual bebas di apotik dapat meredakan gejala wasir.

Namun ada baiknya jika Anda menemui dokter Anda jika obat-obatan di apotik nyatanya tidak cukup membantu Anda. Kadang-kadang jika wasir dirasa sudah terlalu parah, diperlukan hemoroidektomi untuk mengangkat wasir melalui pembedahan.

  1. Divertikulitis

Kantung-kantung kecil yang disebut divertikula dapat terbentuk di mana saja. Divertikula berupa bintik-bintik pada lapisan sistem pencernaan Anda, dan paling sering ditemukan di usus besar. Jika Anda memiliki penyakit divertikulatetapi tidak memiliki gejala , kondisi ini disebut diverticulosis, yang cukup umum di antara orang dewasa yang lebih tua dan jarang menyebabkan masalah.

Tetapi jika kantong meradang, itu disebut divertikulitis. Gejalanya meliputi demam dan sakit perut. Obesitas adalah faktor risiko utama untuk divertikulitis. Divertikulitis ringan bisa diobati dengan antibiotik dan perbanyak oralit sehingga usus besar Anda dapat sembuh.

Pola makan yang kekurangan serat bisa menjadi penyebab divertikulitis, jadi ada baiknya jika Anda dapat mengonsumsi makanan tinggi serat seperti biji-bijian, kacang-kacangan atau sayuran sebagai bagian dari perawatan Anda.

Jika Anda memiliki serangan hebat yang sering kambuh, Anda mungkin perlu operasi untuk mengangkat bagian usus yang sakit.

Memiliki gangguan sistem pencernaan memang hal yang tidak menyenangkan. Untuk itulah jika Anda merasa ada gejala yang tidak wajar pada tubuh Anda, segera periksakan sebelum bertambah parah. Sayangilah tubuh Anda sendiri!

 

Referensi :

Mayo Clinic (2018). Diseases & Conditions. Celiac Disease

Alodokter (2019), Gangguan Pencernaan

Every Day Health (2017), 9 Common Digestive Conditions From Top to Bottom

Dony Raditya Ayo Sehat dengan SehatKuy...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *