Bunda, Ketahui 9 Cara Menyusui yang Benar dan Kapan Waktunya

Berikut cara menyusui yang benar dengan mencari posisi yang aman, pastikan ibu tidak dehidrasi, kenali waktu saat bayi mulai lapar hingga memberikan asupan ibu nutrisi yang baik

Sehatkuy.com – Menjadi seorang ibu baru tentu memiliki tantangan tersendiri, termasuk dalam hal menyusui. Meski bersifat alamiah dan bayi telah memiliki kemampuan mengisap susu sejak lahir, namun hal ini kadang masih terasa sulit. Padahal, semingggu pertama pasca kelahiran hingga menginjak usia 6 minggu adalah masa krusial. Oleh sebab itu, pelajari cara menyusui yang benar seperti uraian di bawah ini.

Cara Menyusui Bayi yang Benar

Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi terbaik untuk memenuhi asupan pada bayi. Pemberian ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama dapat mengurangi resiko diabetes, asma, diabetes, pneumonia, diare, hingga infeksi telinga. ASI juga disinyalir menyumbangkan peranan penting pada kecerdasan bayi.

Tak hanya untuk bayi, menyusui juga membawa dampak yang baik bagi sang ibu. Diantaranya membantu mengurangi resiko terjangkit kanker payudara dan ovarium, serangan jantung, serta diabetes. Selain itu, kegiatan menyusui mampu membakar kalori unruk mengurangi pembengkakan saat hamil dan mengembalikan rahim ke bentuk semula.

Agar bisa membangun keintiman lebih dekat dengan sang bayi, simak beberapa cara menyusui bayi yang benar berikut ini.

  1. Pastikan ibu dan bayi dalam keadaan rileks

Hal pertama yang harus Anda lakukan sebelum menyusui adalah rileks. Meski ini menjadi hal pertama bagi Anda, jangan terlalu memusingkannya. Posisikan kepala bayi lebih tinggi dari tubuhnya agar ia mudah menelan. Anda bisa menyangganya dengan tangan atau jika tak terbiasa, gunakanlah bantal sebagai topangan. Posisikan puting sejajar dengan hidung bayi agar ia mau membuka mulut.

Jika ada orang yang lebih berpengalaman di sekitar Anda, jangan sungkan untuk menanyakan posisi yang tepat. Mungkin awalnya akan terasa tak nyaman, terlebih jika posisinya tidak tepat. Latch on yang benar adalah ketika seluruh puting bersamaan dengan areola mammae masuk ke mulut bayi. Dengan begitu, ketika menyusu bibir bayi akan menekan areola mammae, bukan puting.

  1. Cari posisi nyaman

Menyusui terkesan sangatlah simple dan effortless. Namun, sebenarnya kegiatan ini juga cukup menguras tenaga, apalagi setelah proses melahirkan yang menyakitkan. Agar tak cepat lelah, sanggalah tubuh dengan beberapa bantal untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Gelitik bibir bawah si kecil dengan puting agar ia membuka mulutnya. Jika lapar, bayi akan memiliki naluri alamiah untuk mulai menyedot ASI.

Secara keilmuan, sebenarnya ada beberapa posisi menyusui yang dianjurkan karena telah teruji. Beberapa posisi ini antara lain;

  • The cradle hold (posisi menyusui bayi dalam pangkuan)
  • The cross-over hold (posisi menyusui menyilang)
  • The clutch or football hold (posisi menjepit atau seperti memegang bola)
  • Reclining position (posisi berbaring)
  1. Kenali sinyal lapar dari si kecil

Bayi memiliki keterbatasan karena belum dapat mengungkapkan apa yang diinginkannya. Di sinilah Anda harus tanggap ketika buah hati rewel, menangis atau menaruh tangannya ke mulut. Bisa jadi ini merupakan sinyal lapar dari si bayi. Secara umum, bayi menyusu 10 hingga 12 kali sehari, beberapa malah lebih sering.

Waktu menyusu umumnya berlangsung antara 5 hingga 40 menit. Anda tak perlu khawatir susu akan habis karena semakin sering menyusui, maka semakin banyak pula susu yang Anda hasilkan.

  1. Membetulkan posisi bayi

Terkadang posisi yang kurang pas akan menimbulkan rasa nyeri pada payudara ibu. Jika sudah begini, jangan langsung mencabut puting dari mulut bayi. Usahakan untuk terlebih dahulu melepas peregangan dengan cara memasukkan jari kelingking di antara gusi bayi. Ini akan memberi jeda bayi untuk tak menyusu dan waktu bagi Anda untuk membetulkan posisi bayi.

  1. Biasakan membuat bayi bersendawa

Selayaknya manusia dewasa, bayi juga perlu bersendawa setelah menuntaskan makanannya. Sayangnya hal ini jarang terjadi lantaran otot-otot perut serta pencernaannya belum cukup kuat. Di titik ini, tak ada salahnya Anda membantu bersendawa.

Caranya, tegakkan bayi dengan lengan Anda setelah menyusu, lalu peluk menghadap Anda dengan kepala bersandar di bahu. Perlahan-lahan berilah tepukan ringan di bagian pertengahan punggung bayi sekiranya posisi lambung berasa. Ulangi perlahan hingga mendengar sendawa si kecil. Meski sepele, hal ini penting agar bayi tak gumoh, cegukan, atau muntah.

  1. Memastikan kondisi tubuh ibu tetap terhidrasi

Tubuh manusia didominasi oleh cairan, sehingga penting sekali untuk membuatnya tetap terhidrasi. Apalagi jika Anda sedang menyusui. Walau sebenarnya hormon penghasil susu juga bekerja membantu manajemen tubuh Anda agar lebih hemat air. Anda harus tetap memperbanyak porsi minum.

Tujuan memperbanyak cairan ini bukanlah untuk meningkatkan produktivitas dan volume ASI yang dihasilkan. Lebih dari itu, cairan yang cukup berguna untuk mencegah agar suplai ASI tak menurun. Di samping itu, kadar cairan yang cukup bisa membantu Anda tetap terhidrasi serta mencegah konstipasi, kurang konsentrasi, dan mudah lelah.

  1. Memperhatikan asupan makanan

Ternyata apa yang Anda santap sangat berpengaruh besar pada perubahan volume dan komposisi ASI. Tak heran jika seorang ibu baru dianjurkan untuk mengonsumsi banyak makanan berlaktogen. Konsumsi makanan  seperti oatmeal, telur, bayam, almond mentah, wortelm hingga beras cokelat sangat baik untuk peningkatan kualitas ASI.

Namun, jangan sampai Anda melewatkan karbohidrat dalam menu makanan. Sekalipun Anda ingin cepat kembali kurus pasca melahirkan, tetaplah fokus untuk mencukupi kebutuhan karbohidrat harian. Terlebih selama menyusui, Anda akan membutuhkan lebih banyak energi.

  1. Hindari pemberian dot

Sebisa mungkin, hindari pengenalan dot saat usia bayi masih dini. Penggunaan dot mungkin akan membantu semuanya menjadi lebih mudah, namun hal ini akan menjadi kebiasaan yang membuat si kecil enggan menyusu lagi. Hal ini karena penggunaan dot lebih ringkas hingga anak tak perlu effort untuk menyedotnya. Berbeda dengan menyusu langsung yang membutuhkan tenaga ekstra.

Namun, jika si kecil sudah terbiasa dan rutin menyusu, barulah Anda boleh memperkenalkan dot. Bukan berarti setiap saat ya, ibu sebaiknya memberikan dot ketika tidur saja untuk menekan sindrom kematian bayi mendadak SISD. Pasalnya SISD kerap terjadi lantaran hidung bayi tertimpa payudara ketika ia tertidur dan membuat si kecil tak bisa bernafas.

  1. Menyusui dengan kedua payudara bergantian

Biasakan si kecil untuk menyusu dari kedua payudara secara bergantian agar ukurannya sama. Biarkan ia menyelesaikan menyusu hingga payudara terasa melunak. Jika sudah selesai, cobalah untuk mengganti posisi dan menawarkan payudara lainnya. Jika lapar, ia pasti akan segera menyedotnya, namun jika tidak, tawarkan payudara yang belum disusu ini pada sesi selanjutnya.

Pada kenyataannya, beberapa kasus menunjukkan bahwa bayi hanya mau menyusu dari salah satu payudara saja. Jikas sudah begini, Anda tak punya pilihan lain kecuali memompa payudara lainnya agar tak mengeras.

Memang diperlukan usaha dan waktu untuk dapat benar-benar tahu cara menyusui yang benar. Yang jelas, usahakan untuk selalu memberikan ASI eksklusif pada si kecil yang baru lahir apapun kondisinya. Jika belum menemukan ritme dan posisi yang pas, cobalah tanyakan pada dokter, bidan, atau orang lain yang lebih berpengalaman.

 

Referensi:

American Congress of Obstetricians and Gynecologists. https://www.acog.org/Patients/FAQs/Breastfeeding-Your-Baby

Bagaimana Menyusui dengan Benar? http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/bagaimana-menyusui-dengan-benar

13 Ways to Manage Sore Nipples from Breastfeeding. https://www.healthline.com/health/parenting/sore-nipple-breastfeeding#latch .

Breastfeeding and Burping Your Baby. https://www.verywellfamily.com/burping-and-the-breastfed-baby-431630

Limawan B. Inisiasi Menyusui Dini dan Pemberian ASI Secara Eksklusif. Depkes RI. http://gizi.depkes.go.id/hasil_pertemuan/IMD-DKK-Klaten.pdf

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/breast-feeding/art-20047138

NHS Choice UK (2016). Health A – Z. Breastfeeding: Positioning and Attachment.

Dony Raditya

Ayo Sehat dengan SehatKuy...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *